Tanya Apa Saja pada Baskara, Pemuda Bekasi yang Membuat RPG Steam Sendirian!


49COMMENTS
AMA Baskara Eurgava | Featured

Update – 28 Februari 2017

Sesi AMA telah ditutup. Terima kasih banyak atas partisipasinya!

Artikel asli – 27 Februari 2017

Halo. Saya Baskara. Lengkapnya Ibrahim Indra Baskara.
Siapa di sini yang lahir di tahun 90-an? Yang masa kecilnya dipenuhi dengan console seperti Nintendo 64, Dreamcast, PS1, Game Boy, main game Super Mario Bros.Mega Man, dan Final Fantasy? Yang di masa SD/ SMP/ SMA curi-curi waktu di kelas main game Nokia N-Gage? Atau sering menghabiskan waktu di rumah main game MMO macam Ragnarok OnlineLineage 2World of WarcraftDragon Nest? Kalau kamu adalah salah satunya, artinya kamu tidak jauh beda sama saya.

Ketertarikan saya kepada game awalnya bukan karena serunya gameplay yang ditawarkan, desain karakter yang keren, atau karena tren di kalangan teman-teman sebaya. Tapi, menurut saya, hanya di video game saya bisa melihat visualisasi terbaik dari sebuah imajinasi (entah itu cerita, dunia, gameplay, dan sebagainya)
Mau science-fiction? Saya main RTS seperti Tiberian SunDune, tambah satu dua FPS seperti Deus Ex. Mau fantasi? Saya main Baldur’s GateCastlevaniaDragon AgeDark Souls, dan banyak judul-judul lainnya. Semua video game yang saya mainkan membantu saya berkreasi dan mencari bentuk dari khayalan ideal yang sering saya bayangkan saat menggambar atau mengarang cerita ketika disuruh oleh guru di sekolah.
Lama kelamaan, muncul niatan untuk membuat cerita saya sendiri. Garis bawahnya ada di kata “cerita.” Saya awalnya tidak peduli bentuknya mau seperti apa. Komik, ilustrasi, novel, film, game, apapun jadi.
Setelah ikut les gambar sana-sini, dikenalkan pada orang-orang yang sharing ilmu storytelling, iseng bikin komik kecil-kecilan yang putus nyambung, saya akhirnya terpikir untuk menulis novel saat masih SMP kelas 3. Novel itu rampung dan rilis tahun 2009 ketika saya SMA kelas 3, dengan judul EURGAVA: Epos Awal Dunia Sudarot.
Eurgava: Fight for Haaria | Screenshot 1
Lihat lagi subjudulnya. Menjijikkan? Itu hasil dari imajinasi ngaco anak SMP kelas 3 yang ngotot ingin membuat ceritanya sendiri. Karya tersebut hanya dicetak seribu eksemplar dan didistribusikan di kota-kota besar di Pulau Jawa. Novel itu hanya bertahan dua bulan di toko buku dan akhirnya dikembalikan lagi ke penerbit karena tidak laku. Lemari saya sampai sekarang masih penuh dengan eksemplar yang tidak terjual dari penerbit.
Walaupun demikian, saya tidak berniat berhenti di situ. Kalau cara penyajian terbaik untuk cerita saya bukan dalam bentuk novel, lalu apa? Saya yakin saya perlu kuliah di jurusan yang terkait untuk mempelajari lebih lanjut. Saya akhirnya mengambil jurusan DKV Animasi di BINUS. Saya berkumpul dengan mahasiswa-mahasiswa yang hobinya main game, nonton film, baca komik, atau koleksi mainan.
Saya sudah cukup tahu besarnya perindustrian video game, tetapi itu belum cukup membuat saya yakin. Namun begitu, saya tahu ada jalan untuk menciptakan video game dan merilisnya walaupun dengan keterbatasan saya saat itu. Dan saya mulai tertarik untuk mempelajari lebih lanjut.
Saya mulai mengenal developer indie dan berkumpul dengan komunitas game serta berbagai event terkait. Saya mulai beli lisensi engine dan menghubungi beberapa portal game seperti Steam atau Game Jolt.
Di awal tahun 2016, saya lakukan rencana saya untuk melanjutkan EURGAVA ke dalam bentuk video game berjudul EURGAVA: Fight for Haaria yang akhirnya terbit di Steam, Desember 2016 lalu.
Cerita EURGAVA: Fight for Haaria tidak memiliki kaitan apapun dengan cerita yang tertulis di novel tahun 2009. Saat introspeksi, konsep dunia di dalam novelnya memang terasa sangat hambar, tidak konsisten, dan gagal menggambarkan dunia yang ingin saya wujudkan.
Akhirnya saya memutuskan untuk mengubah cerita dan penyajiannya karena saya yakin harus membuat karya yang lebih baik jika saya ingin bisa menembus pasar global dan diterima dengan lebih serius.
Eurgava: Fight for Haaria | Screenshot 3
Saat ini, saya akhirnya berhasil membentuk tim kecil bernama MOZAIC HEAVEN yang terdiri dari teman-teman yang antusias dalam menciptakan video game dan berbasis di Depok. Tim ini tidak terlibat dalam produksi EURGAVA: Fight for Haaria, namun kami berencana membuat game mobile dengan judul yang berbeda: sebuah survival isometric shooter dengan nuansa komedi.
Terlepas dari agenda tim MOZAIC HEAVEN, saya sendiri sedang mengonsep fitur-fitur tambahan dan perbaikan-perbaikan berupa patch untuk EURGAVA: Fight for Haaria. Jika respons game ini cukup baik, kemungkinan besar akan ada prekuel atau sekuel dari EURGAVA: Fight for Haaria.
Ada yang ingin bertemu dengan saya? Saya biasa menghadiri gathering yang diadakan oleh Komunitas Game Developer Jakarta. Tapi untuk sekarang, kalian bisa bertanya langsung kepada saya lewat komentar di artikel ini hingga pukul 22:00 WIB.
Pengembangan game? Penulisan cerita saat masih novel dulu? Gaung industri game development lokal? Opini mengenai video game era sekarang? Silakan tanyakan langsung.

Ask Me Anything (AMA) adalah rubrik Tech in Asia Indonesia yang memberi kesempatan pada para pembaca untuk bertanya apa saja kepada tokoh dari industri startup dan teknologi. Jika kamu memiliki masukan untuk rubrik AMA, silakan sampaikan melalui formulir ini.
(Diedit oleh Septa Mellina)

ABOUT BASKARA

Author & Creator of EURGAVA, Co-Founder @ Mozaic Heaven, Member of Jakarta Game Developer Community
You can create a community post just like Baskara here!

Komentar